Dekap Haru Biru #1
"Lebih dari 10 tahun aku merengkuh bayang kesalahan masa lalu. Benar aku telah salah mengkhianati kepercayaan akan hubungan kita dahulu. Kesalahan itu yang membuatku tidak bisa memaafkan diriku sendiri. Aku berdiri dengan bayang kesalahan dan tidak dapat melepas semua tentangmu. Ingin rasanya kembali ke masa lalu di mana aku dapat tegas dengan egoku. Namun semua hanya sebatas penyesalan, ya penyesalan. Hari ini aku benar-benar sudah lelah bernaung dalam bayang-bayang kesalahan ini. Aku benar-benar ingin pergi. Melepaskan semuanya dan melepaskan kamu dalam bayang hidupku. Aku kembalikan kepada pemilik kehidupan Tuhan Yang Maha Esa, harapanku kesalahan di masa laluku tidak kembali terulang di masa depan. Kepada mu sang Riap maafkan atas tiap kesalahan masa laluku, do'a ku agar kehidupan kita bahagia bersama, menua bersama dalam keikhlasan. Dekap haru biru untuk kamu sang Riap"
Your Soul,
Ednis
Air mata tak terbendung kala Landa menutup buku harian Ednis. Isak tangis tertahan membuat buku di tanganya bersimbah air mata. Penyesalan yang dalam serta depresi yang terus-menerus dihadapi Ednis membuat dirinya tak kuat dan akhirnya pergi tanpa ada yang tahu ke mana, sudah hampir 1 tahun kepergian Ednis. Bahkan semua keluarga sudah mengikhlaskan jika waktu akan menjawab dengan kedatangan tubuh kaku Ednis.
"Landa.., maafkan aku tidak ada maksud untuk membuatmu sedih" sapa Raza sembari duduk di sebelahnya.
"Kenapa..kamu baru kasi tahu aku sekarang bahwa Ednis berjuang melawan depresinya, kenapa dia memasang semua foto dengan senyuman bahagia padahal dia sakit..Za"
"Maafkan aku semua hal itu adalah permintaan Ednis, kamu masih ingat berapa kali dia mencoba untuk kembali kepada mu dan meminta maaf namun kamu menolak"
"Aku sudah memafkannya Za..,aku sudah kembali kepadanya, namun kembali lagi dia selingkuh Za"
"Tidak ..An, kamu salah 4 tahun lalu ketika kalian balikan lagi itu adalah masa depresi terberatnya, ditambah kondisi ekonomi keluarganya. Dia tidak sanggup menghadapi dirinya sendiri..An, hingga akhirnya kamu mengucapkan kembali kata-kata yang membuatnya makin hancur."
"Tidak mungkin Za, malah dia menjadi orang yang mudah marah dan akhirnya meminta kami putus, dia yang meminta Za bukan aku"
"Dia tidak bisa melepas bayang penyesalan atas perbuatannya kepadamu, dan ketika kalian balikan dia malah takut untuk menyakiti hattimu makanya dia memutuskan untuk pergi, namun kamu malah menuduhnya kembali untuk berselingkuh dan tidak benar-benar mencintai kamu"
"Hari itu adalah hari terberat baginya..An, di mana hari itu ayahnya jatuh sakit. Dia percaya kamu adalah belahan jiwanya An..,namun..kehidupan terberat menimpanya di sini."
"Tapi kenapa dia tidak cerita kepadaku..Za..Kenapa?!"
"Hubungan LDR kalian yang buat semua kesalapahaman ini, sudahlah An..mari aku antar kamu pulang".
Reza adalah sabahat masa kuliah Ednis. Jatuh bangun kehidupan selalu mereka bagi berdua. Reza bukan hanya sahabat namun seperti saudara kandung buat Ednis. Kedua orang tua Reza telah wafat ketika dia memasuki semester awal di bangku perkuliahan. Dia bangkit karena dukungan semangat dari Ednis. Malah sejak Ednis pergi Reza tinggal bersama ibu Ednis untuk menjadi penghibur dan teman cerita. Reza sudah melakukan banyak cara untuk mengetahui keberadaan Ednis, namun tidak pernah menemukan titik terang. Semua akses sosial media, ATM, Kartu Kredit, bahkan KTP nya ditinggalkan olehnya. Sampai saat ini Reza yakin bahwa sahabatnya itu masih hidup. Dia tidak mau menjadi orang yang patah semangat.
Di sebuah pulau jauh dari hingar bingar kehidupan dunia, seorang wanita paruh baya sedang menyusun kayu bakar di sebuah perapian.
"Hei kau ...Dame..jangan melamun aja , kau bantulah aku sebentar lagi amang mu pulang dari memancing ikan" seru wanita paruh baya itu ke sosok seorang pria tak jauh dari tempatnya.
"Iya inong..., kenapalah kau sendirian angkat semua kayu ini kan bisa kau menyuruhku tadi"
"Malas aku menyuruhmu, udah beberapa hari ini ku lihat asik melamun saja kerjaanmu, entah apa yang dipikiranmu itu Dame, jangan kau pikirkan dunia ini nanti pening kepalamu"
"Ngaklah inong cuma beberapa hari ini teringat aku sama kawan-kawan ku di Jakarta"
"Ahhh..biar aja mereka orang kota sombong-sombong itu ngak usah ko pikirkan kalau rindu orang itu dikirimkannya kau surat, haaa..sudah datang itu amang mu jemput sana ikannya biar ku masak kuah asam kesukaanmu biar lupa kau sama orang kota Jakarta itu"
Dame pergi menyusul sebuah kapal yang merapat ke dekat pulau tempat mereka tinggal.
"Gimana tangkapan hari ini Ron?" tanya Dame sambil menarik tali yang dilemparkan Roni untuk ditambatkan dekat haluan kayu tempat kapal berdermaga.
"Biasalah tak banyak lagi ikan di lautan ini semenjak manusia tidak bisa membedakan mana alam mana tempat sampah" seru Roni
"Tadi ada juga ku lihat perahu mendekat ke Pulau ini membawa rombongan, mahasiswa mungkin tapi tak jadi menepi mereka
Di sebuah pulau jauh dari hingar bingar kehidupan dunia, seorang wanita paruh baya sedang menyusun kayu bakar di sebuah perapian.
"Hei kau ...Dame..jangan melamun aja , kau bantulah aku sebentar lagi amang mu pulang dari memancing ikan" seru wanita paruh baya itu ke sosok seorang pria tak jauh dari tempatnya.
"Iya inong..., kenapalah kau sendirian angkat semua kayu ini kan bisa kau menyuruhku tadi"
"Malas aku menyuruhmu, udah beberapa hari ini ku lihat asik melamun saja kerjaanmu, entah apa yang dipikiranmu itu Dame, jangan kau pikirkan dunia ini nanti pening kepalamu"
"Ngaklah inong cuma beberapa hari ini teringat aku sama kawan-kawan ku di Jakarta"
"Ahhh..biar aja mereka orang kota sombong-sombong itu ngak usah ko pikirkan kalau rindu orang itu dikirimkannya kau surat, haaa..sudah datang itu amang mu jemput sana ikannya biar ku masak kuah asam kesukaanmu biar lupa kau sama orang kota Jakarta itu"
Dame pergi menyusul sebuah kapal yang merapat ke dekat pulau tempat mereka tinggal.
"Gimana tangkapan hari ini Ron?" tanya Dame sambil menarik tali yang dilemparkan Roni untuk ditambatkan dekat haluan kayu tempat kapal berdermaga.
"Biasalah tak banyak lagi ikan di lautan ini semenjak manusia tidak bisa membedakan mana alam mana tempat sampah" seru Roni
"Tadi ada juga ku lihat perahu mendekat ke Pulau ini membawa rombongan, mahasiswa mungkin tapi tak jadi menepi mereka
Komentar
Posting Komentar