Pernikahannya Kabar Bahagia Untuk Diriku Namun Luka Bagi Hatiku

Aku belum lama mengenalnya baru setahun belakangan ini. Aku masih ingat ketika melihat namanya dikolom peserta training penerimaan pekerja baru di perusahaanku. Aku bertanya-tanya siapa gerangan wanita dengan nama unik yang menarik hatiku untuk mengenalnya. Dan pada akhirnya aku bertemu dengannya beberapa minggu setelah dia menjadi "New Hire" di perusahaan tempat ku bekerja.

Parasnya yang teduh dan tutur katanya yang lembut membuatku memperhatikannya. Dia punya selera style dan gaya sendiri. Rambut blonde serta kulitnya yang putih mencuri semua mata. Ada sesuatu yang membuatnya spesial dan ku ingin mengenalnya lebih jauh. Dan akhirnya mulai ku dapat no teleponnya dan akhirnya keakraban kami terjalin. Waktu demi waktu membawa komunikasi kami intens walau hanya obrolan dengan WA. Kita saling share keresahan kita masing-masing sampai akhirnya dia menunjukkan arti Sehat dan memandang hidup lebih baik bagiku. 

Dia membiusku dengan semua sikap dan kata-katanya. Hingga kita mulai saling bercerita tentang rahasia masing-masing. Dia seorang single mother karena adanya ketidak harmonisan dalam rumah tangganya sampai berujung perpisahan. Baginya cerminan Bahagia itu sederhana bisa menjadi istri yang melayani suami dan melewati masa tua bersama. Sederhana memang namun sulit untuk di raih. Sampai pada akhirnya dia menemukan serpihan dari retakan cinta yang hilang di hatinya. 

Aku bahagia untuk dirinya karena dia pantas bahagia setelah kehidupan yang dia jalani. Mungkin beberapa pria pernah singgah di hatinya namun hanya pria yang sekarang akan menjadi calon suaminya berani berikrar di depan kedua orang tuanya. Namun tidak semulus dalam pemikiranku. Perjalanan karirnya di perushaan ku harus terhenti karena pria yang akan menikahinya bekerja di perusahaanku juga, namun hubungan mereka terganjal akan ketidak terimaan rekan kerjanya akan pilihannya. Sakit memang, sedih.. Namun pilihannya membuat diriku yakin bahwa dia memang sudah memilih pria yang tepat. Akhirnya dia memutuskan untuk resign. 

Planning mereka akhir tahun ini akan melangsungkan akad nikah. Mendengarnya diriku bahagia namun ada luka di hatiku. Malam itu aku bisa menghabiskan waktu bersamanya disaat menunggu dia pulih pasca operasi kecil. Hatiku makin terluka saat aku tahu sosok pria itu sebenarnya. Aku harus apa..?? Bahagia?? Berduka. Sampai ku katakan Why Him???! Tapi kata-kata ku menjadi sebuah pernyataan ketidak sukaan akan jalan takdir Tuhan. 

Aku harus kuat.. Untuk memberikan motivasi kepadanya. Aku harus rela melihat dia bahagia karena hal itu adalah Do'a ku selama ini. Menghitung hari dia resign hari-hari ku menjadi kelabu. Dengan tidak bermaksud menyinggung perasaannya, aku menyampaikan candaan dari WA yang menyangkut pria itu. Namun hal itu menjadi awal Kebencian mendalam olehnya kepadaku. Aku hanya ingin menetralisir hatiku. Dan padangannya menyiratkan kebencian mendalam kepadaku, mungkin dia sudah memasukkan namaku ke daftar list nama rekan-rekan kerja yang menyakiti hatinya. Mungkin ini adalah jawaban gundahku. Dan ini jalan bagiku menutup komunikasi dengannya. Hanya do'a yang bisa ku panjatkan kepadanya untuk pernikahannya nanti. Karena cinta dan sayang ku miliki hanya sebuah rasa absurd yang tak akan pernah terwujud. 


Komentar

Postingan populer dari blog ini

12/12/16-12.38 pm

Prasangka

Deja vu