Lara Hati #1

Hatiku menjerit meronta ketika tahu cerita sebenarnya. Pikiranku kacau.. Tak sinkron antara hati dan logika. Gemuruh rasa perih seperti luka sayatan sembilu dibalur dengan tetesan air asam dan aku terdiam menahan tak bisa berteriak.

Pikiranku mengajak untuk kembali di masa dimana ku melihat dan akan menduga hal itu akan terjadi. Aku tak kuasa menahan tetesan air mata. Tapi wajah bahagia mu terbingkai indah dengan foto bersamanya yang di rangkai di depan kaca bersampul hijau itu. Bingkai itu menyiratkan kau bahagia bersamanya.

Aku menarik diriku lebih dalam, mengingat segala percakapan, segala memory yg terangkai dan ya.. Aku bukan siapa-siapa. Hanya sekedar memory yang terhapus di ingatanmu. Ya.. Ternyata sedih dan kecewaku bukan karena hiruk pikuk organisasi tapi karena ku tak mampu menerima lara hati ku.

Benar kata Ay.. Jangan mendulang sebuah harapan lebih. Aku hanya sosok baru yang akan terlupakan. Dan aku yakin setelah kamu pergi hanya aku yang akan ingat hari-hari bersamamu..ya karena Aku Mencintai terlalu dalam.

Malam itu ku tak lelah memandang wajah mu ketika tertidur. Lantunan do'a dalam hatiku ku panjatkan untuk kebahagiaan mu. Dan aku ikhlaskan semua keputusan apapun karena memang aku hanya bisa mencintaimu dan menjadi orang yang hanya bisa menyapamu dalam do'a ku.

Menghitung hari akan berpisah dengan mu sangat berat bagiku. Dan ketika kamu bertanya ada apa denganku?? Lara hatiku yang menjawab. Hanya sebatas luapan dalam tiap kata membuat bait demi bait kumpulan kalimat yang bisa menjawabnya.

Kenanglah aku menjadi seorang yang Baik walaupun Ngak Bener. Terima kasih untuk waktu sehari dengan mu begitu bermakna buatku.

11 days before i can't see you

Komentar

Postingan populer dari blog ini

12/12/16-12.38 pm

Prasangka

Deja vu