Mama.. Cermin Ketegaranku

Disaat mentari masih setia menyinari bumi belahan lain, mama ku sudah terbangun untuk menjalankan tugasnya menjadi sosok ibu untuk keluarganya. Sebelum kumandang adzan mama ku sudah membersihkan seluruh sudut rumah sampai pekarangan. Ketika adzan berkumandang sebelum menunaikan kewajiban sebagai hamba Allah, mama dengan tegas membangunkan kami semua. Mama ku sosok ibu terbaik yang tak akan pernah tergantikan bahkan jika ditukar dgn jiwa ini.
Sarapan pagi lengkap dengan teh dan susu hangat selalu tertata di meja makan. Mama memahami makanan dan minuman kesukaan kami semua. Mama ku seorang guru. Mama ku mengajarkan tanggung jawab dan kewajiban. Dimana mama harus melaksanakan kewajiban sebagai seorang istri dan ibu yang harus menemani dan melayani suami dan anak-anaknya disamping tanggung jawabnya sebagai pendidik untuk murid-muridnya. Setiap jam makan siang mama akan selalu menyempatkan diri untuk makan bersama papa dan tak lupa mengambilkan nasi untuk papa. Konsep sederhana yang papa dan mama terapkan dalam berumah tangga.
Mama...senyuman dan tiap tetes air mata yang sampai saat ini mengalir rasanya masih saja belum cukup untuk menjadi bilasan kesedihan menjadi kebahagiaan untuk mu mama. Tidak dapat terhitung dengan jariku berapa banyak cobaan yang mama lewati. Diawal kehancuran ekonomi keluarga kita sosok mu selalu tegar dihadapan kami, seakan menyiratkan bahwa kita baik-baik saja. Mama.. teringat ku akan pilu hati mu ketika kehilangan sosok Ibu dan juga nenek yang kami sayangi tanpa bisa melihat serta mengantar ke tempat istirahatnya yang terakhir. Tak cukup sampai disitu ma..ku teringat akan selimut gelap keluarga kita kehilangan kakak yang pertama kondisi sakit parah dengan ekonomi terpuruk. Oh.. Tuhan cukup..cukup..jangan lagi kuras air mata mama ku.. Cukup.. Cukup. Namun teriak hati ku tak berbalas kakak ku yang nomor dua menyusul keharibaan ilahi, setelah melewati beberapa tahun melawan sakitnya. Mama ku.. tidak setegar dan sekuat dulu, pikiran dan kesehatan tak sejalan akhirnya mama semakin dimakan usia dengan kondisi mulai bersahabat dengan obat. Mama.. Kuat ya.. Kita kuat kok..hanya itu yang bisa aku sampaikan walau sebenarnya hatiku teriak. Ketegaran kami teruji kembali kakak laki-laki ku lebih disayangi oleh sang khalik pergi meninggalkan kami dan anak serta istri yang sedang mengandung. Tuhan... Apa ini?? Kenapa Mama ku engkau coba seberat ini? Mama sudah kehilangan orang-orang yang sangat disayanginya. Mama semakin terpuruk kesehatannya kala hanya bisa menangisi makan puteranya tanpa melihat dan mengantarkan ke pembaringan terakhirnya.
Tuhan.. Kenapa Mama dan Papa ku engkau coba seberat ini?? Teriak ku dalam diam. Mama maafkan puteri mu ini..yang menorehkan kesedihan kembali ke hidup mu. Mama.. Maafkan anak mu ini yang tidak bisa mempertahankan keutuhan rumah tangga dan menjadi ibu terbaik untuk anak-anak ku. Tapi mama yakinlah mama mengajarkanku makna dari sebuah ketegaran. Mama.. Engkau adalah cermin ketegaran ku. Usia mu yang sudah lekang dimakan jaman harus tetap memikirkan kehidupanku.
Maafkan aku.. Ma.. Saat ini ingin rasanya ku seberangi pulau tempat ku berpijak untuk bertemu  dengan mu hanya untuk mengucapkan terima kasih ku dan ingin ku katakan bahwa Aku sangat mencintai dan merindukan mu.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

12/12/16-12.38 pm

Prasangka

Deja vu