#StoptanyaKapan-WP Story
Cerita ini menarik dan penuh rasa sehingga saya ingin share ke para ladies pembaca setia Vemale.com
WP-Malang
Selama ini pertanyaan "Kapan?" itu selalu orang lain tujukan untuk mendapatkan kepuasaan jawaban yang menurut saya memojokkan seseorang. Mereka bahkan tidak mengerti jika pertanyaan itu datang dari diri mereka sendiri. Saya adalah salah seorang dari milliaran orang di bumi ini yang selalu mengungkapkan kata "Kapan?", tidak hanya untuk orang lain tapi juga untuk Sang Maha Khalik. Pertanyaan yang selama ini selalu saya tanyakan karena begitu banyak hal yang sangat tidak mudah untuk saya pahami konsepnya.
Di awal pernikahan saya merasa menjadi seorang wanita beruntung, apalagi ketika saya diberikan karunia dua orang anak yang cantik dan ganteng. Pada saat itu saya dan suami memiliki usaha sendiri yaitu usaha rumah makan. Namanya usaha pasti ada naik turunnya. Usaha kami berjalan 6 thn, namun karena suatu hal usaha kami terpaksa kami tutup karena sudah tidak mampu utnk menggaji karyawan. Kondisi ini mulai menimbulkan percikan api dalam rumah tangga saya. Saya harus berusaha mensupport keuangan keluarga, karena suami saya tidak bekerja. Dibilang suami saya tidak usaha cari kerja ya ga juga sih sebenernya, hanya saja dia tidak pernah mau berusaha dari bawah, selalu mencari posisi empuk tanpa mau merintis dari bawah. Saya sudah pernah sampaikan, kalaupun dia harus berjualan telur dipinggir jalan, jadi supir atau kuli sekalipun saya tidak malu atau keberatan asal dia berusaha memenuhi tanggung jawabnya sebagai kepala rumah tangga. Saya berusaha mencari penghasilan lain dengan menjual kue basah dengan cara menitipkan ke toko-toko kue di pasar. Saya yang tidak punya background untuk membuat kue berusaha mencari tahu dari internet resep-resep kue yang sekiranya banyak orderan. Sebagai promosi saya memberikan tester ke tetangga dengan cuma-cuma. Berawal dari pesanan kue yang hanya 25 biji, lambat laun bertambah menjadi 50,100,200,300 bahkan saya pernah menerinma pesanan kue sebanyak 800 dalam sehari dan saya kerjakan sendiri tanpa asisten. Usaha saya mulai menanjak dengan semakin bertambahnya pesanan dari hari ke hari. Untuk itu saya memutuskan mempekerjakan asisten sebanyak 2 orang. Orderan semakin banyak dari hari ke hari dan jenis kue yang saya terima juga semakin bervariasi. Tidak hanya orderan kue basah , saya menerima pesanan cake, cake ultah, nasi kotak, nasi tumpeng dan catering.
Sampai akhirnya anak-anak saya mulai mencari perhatian saya, karena saya terus bekerja menerima pesanan kue untuk kebutuhan hidup kami sehari-hari dan tagihan-tagihan kami. Sampai pada suatu hari terjadi pertengkaran hebat antara saya dan suami sampai terjadi KDRT, perut saya ditendang oleh suami saya, sehingga saya merasakan sakit yang amat pada bagian perut saya, paha dan kaki saya pun biru lebam akibat pertengkaran tersebut. Ketika suami saya membawa pergi anak saya, saya yang gelap mata memutuskan untuk meninggalkan rumah karena sudah tidak tahan. Saya hanya membawa baju dan ijazah saya dan menacari kos-kosan untuk tempat tinggal. Pada waktu itu keuangan saya menipis dan saya harus memutar otak untuk dapat memenuhi kehidupan saya kedepannya. Dan yang pertama terlintas saya harus mencari pekerjaan. Entah kenapa saya memutuskan untuk pergi ke Dinas Penyalur Tenaga Kerja. Saya bersyukur waktu itu langsung diterima kerja sebagai baby sitter pengganti selama 1 minggu di Surabaya, dengan gaji yang bisa saya gunakan untuk keperluan hidup. Keluarga tempat saya bekerja adalah keluarga Polisi memiliki dua orang anak laki-laki dan seorang anak perempuan. Saya diminta untuk menjaga anaknya yang berusia 3 tahun, bertubuh besar dan sehat. Saya tidur di sebuah ruangan sudah berisi barang dan kardus-kardus, ruangan ini tepatnya disebut gudang karena tidak jarang saya melihat tikus-tikus sebesar kepalan tangan saya seliweran. Dikondisi ini saya harus mengenyampingkan ego, amarah dan rasa kesal saya. Saya bersyukur orangtua saya memberikan kesempatan untuk mengenyam pendidikan sampai S2. Dan pada kondisi saat itu yang saya pikirkan hanya bagaimana saya bisa memenuhi hidup saya. Pekerjaan saya tidak hanya menjaga anak-anaknya, saya juga membantu pekerjaan rumah tangga seperti masak, cuci baju, cuci piring, menyapu , dsb. Sampai akhirnya pekerjaan itu selesai dan saya kembali ke Malang.
Saya terus menerus memikirkan rumah tangga dan anak-anak saya. Dalam kesendirian dan jatuh saya bertanya sama Tuhan "Kapan semua ini akan berakhir?". Sampai pada akhirnya sebuah keputusan berat dan terbesar dalam hidup harus saya ambil yaitu Perceraian. Memang sudah tidak ada kecocokkan antara saya dan suami, bukan hanya dengan suami tetapi juga dengan mertua. Kami sangat berbeda pendapat, sudah tidak bisa saling memahami. Saya yakin dengan keputusan saya, saya tidak mau menjalani karena terpaksa. Dan saya tau apabila saya paksakan seperti apa jadinya. Pada waktu itu orang tua kami sama-sama memiliki jabatan yang cukup tinggi, sehingga mereka takut akan omongan orang dilingkungan sekitarnya, namun saya sudah tidak bisa mempertahankan kondisi rumah tangga saya. Keluarga saya sangat kaget terutama ibu saya shock karena mereka tidak pernah tahu kondisi rumah tangga saya yang sudah sering bertengkar. Cobaan hidup saya tidak terhenti saja disini.
Berkali kali saya marah dan protes dengan Tuhan, walaupun saya sadar semua yang sudah terjadi ini sudah takdir Tuhan. Saya marah karena saya merasa, "Kenapa hidup ini tidak adil?". Contohnya orangtua saya adalah orangtua yang sangat sangat lurus. Mama saya adalah seorang guru dan Papa saya seorang karyawan swasta di salah satu perusahaan mineral di Kaltim. Mama saya sangat rajin dan telaten dalam mengurus keluarganya, contohnya tepat setengah 5 subuh dia menyapu pekarangan rumah, dia solat subuh, dan setelah itu dia akan menyiapkan sarapan kami semua lengkap dengan segelas teh dan susu hangat. Setelah kami semua berangkat sekolahdia menyelesaikan semua pekerjaan rumah. Setelah selesai dia akan mulai menyiapkan makan siang, semua dia olah sendiri dengan bahan yang baru dia beli dari tukang sayur yang lewat depan rumah.Tepat jam 12 papa pulang kerja, makanan sudah siap di meja lengkap dengan sayur, ikan atau ayam,tahu tempe sambel dan selalu mama yang mengamblkan nasi untuk papa. Setiap papa pulang kantor pada sore hari mama sudan menyediakan snack atau cemilan dengans egelas the hangat untuk menyambut papa pulang dari kantor. Dari kecil sampai sekarang kami ditanamkan untuk pulang ke rumah sebelum magrib dan shalat berjamaah bersama di rumah kemudian dilanjutkan dengan makan malam bersama sambil ngobrol aktivitas keseharian kami semua. Begitu sederhana dan bahagianya konsep keluarga yang ditanamkan papa dan mama saya. Papa merupakan karyawan yang memiliki posisi penting dimana papa harus menyeleksi kontraktor yang akan bekerjasama dengan perusahaan. Tidak jarang para kontraktor dating ke rumah untuk menyogok papa dengan segepok uang sebagai pelicin, namun papa tetap menolak semuanya secara halus. Papa termasuk karyawan yang baik dan amanah, sehingga diberikan rezeki menunaikan ibadah Haji dibiayai oleh perusahaannya.
Namun kembali saya marah dengan Tuhan karena orangtua saya yang hidupnya baik diberikan cobaan bertubi-tubi. Ketika papa pensiun, papa ditipu orang, sehingga uang pensiun papa saya habis. Papa saya mulai terpukul tapi tidak ada yang bisa dilakukan karena orang yang menipu sudah tidak tahu lari kemana. Mama saya sudah tidak bisa berkata apa-apa dan mereka hanya pasrah dan berdzikir menganggap itu hanya cobaan. Kondisi ini berdampak ke perekonomian rumah tangga, mama papa mulai kekurangan untuk kebutuhan sehari-hari karena hanya mengandalkan uang pensiun yang tidak seberapa, dibanding dengan biaya hidup yang sangat tinggi. Mama saya kehilangan ibunya yang sangat disayangi tanpa sempat bertemu. Saya kehilangan kakak perempuan nomor dua, setelah sakit sekian lama dan mama saya yang mengurus mulai awal sakit hingga menghembuskan nafas terakhir di rumah sakit. Kondisi itu mulai membuat papa dan mama semakin terpukul. Kami kembali kehilangan kakak perempuan yang ketiga, yang juga karena sakit. Beliau hanya dirawat dirumah karena kami sendiri tidak memiliki biaya untuk perawatan dirumah sakit. Beliau hidup sebatang kara karena beliau memang belum pernah menikah hingga akhir hidupnya. Mama saya yang memandikan, menyuapi merawat mulai ujung kaki hingga ujung rambut tanpa mengeluh sedikitpun, hingga beliau meninggal. Dalam kondisi ini saya bertanya kepada Tuhan "Kapan Papa dan Mama saya diberikan kebahagiaan??", saya tidak sanggup melihat mereka harus menanggung semua beban itu. Namun cobaan itu kembali lagi menghampiri keluarga kami cobaan terberat datang ketika kakak laki-laki saya meninggal karena sakit jantung, kakak saya meninggalkan seoarang istri yang sedang hamil 8 bulan. Dan yang lebih menyakitkan mama saya tidak sempat melihat jenazahnya untuk terakhir kali, karena sudah kehabisan pesawat. Beliau hanya menangisi makamnya menyesali mengapa tidak sempat bertemu untuk terakhir kali. Anak dan istri kakak saya sekarang tinggal bersama orangtua kami di Kalimantan. Mama mulai mengalami stress, tidak bisa tidur jadi harus selalu minum obat tidur, badannya mulai kurus karena tidak mau makan. Mama mulai sering sakit. Kondisi mama semakin bertambah buruk karena tahu mengenai perceraian saya. Belum lagi papa yang difitnah korupsi membawa lari uang masjid, papa saya mengisi waktu luang dengan menjadi takmir masjid dekat rumah. Walapun tuduhan itu tidak terbukti. Papa terkena stroke, dan mama mengalami patah tulang selangkangannya hingga keduanya harus dirawat dirumah sakit bersamaan dalam satu ruangan.
Tuhan.."Kapan kami dapat mencicipi Bahagia itu?" Saya hanya tidak habis pikir
kenapa orangtua saya yang begitu lurus taat beragama harus diberi cobaan yang
bertubi-tubi ?. Mama
saya seorang istri yang setia taat kepada suami, tapi kenapa mama tidak
pernah saya terlihat bahagia? dan saya pribadi juga marah serta protes dengan Tuhan,
saya yang berusaha hidup sederhana, hanya mendambakan hidup sederhana tidak
bisa merasakan bahagia berumah tangga. Saya tidak bercita-cita kaya, saya hanya ingin memiliki
pasangan saya bekerja dan memiliki penghasilan yang halal. Saya akan menyambutnya
dengan hangat ketika dia pulang dari kerja, melayani sudah surga buat saya. Tapi apa yang saya dapat? laki-laki
yang hanya memandang sebelah mata, hanya memiliki keinginan tertentu kepada
seorang wanita.
"Kapan kami dapat kesempatan memiliki bahagia kami?"
Saya hanya ingin
hidup lebih baik dari sebelumnya, saya ingin berumah tangga yang sebenarnya.
Dengan kata lain saya memiliki suami yang bekerja memiliki penghasilan serta mendukung cita-cita saya memiliki usaha sendiri dibidang kuliner sesuai passion saya. Bisa
membahagiakan dan mencukupi kebutuhan kedua orang tua saya, anak-anak saya, mengurus
suami saya. Hidup sederhana tapi bahagia. Sampai akhirnya saya akan berhenti bertanya "Kapan?" kepada Sang Khalik.
WP-Story for f3_borito.
WP-Story for f3_borito.
Komentar
Posting Komentar